Jadi Narasumber, Gubernur Erzaldi Bagikan Pemikiran dan Pengalaman Memimpin Daerah
PANGKALPINANG - Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Rosman mengatakan, sosok seorang pemimpin di masa depan dapat mengakomodir dan mengolaborasikan berbagai era yang pernah dilewati pemimpin-pemimpin di Indonesia.
Dalam FGD virtual “Rencana Pembangunan Program Magister Kepemimpinan Lintas Keilmuan” (Interdisciplinary Studies Of Leadership) melalui zoom meeting, Universitas Indonesia sebagai koordinator persiapan program magister leadership mengundang Gubernur Erzaldi sebagai salah seorang perwakilan pemimpin daerah untuk memberikan masukan-masukan terkait adanya program magister ini.
“Berdasarkan pengalaman saya, penting dimasukkan dalam kurikulum dengan mengolaborasikan empat era yang pernah dilewati Indonesia seperti, era reformasi, globalisasi, revolusi industri 4.0, dan disrupsi,” ungkapnya.
Berbagai masalah yang terjadi pada tiap era dapat dijadikan sebagai contoh perbandingan. Menurut Gubernur Erzaldi, hal ini dapat menjadi kurikulum penting sehingga, calon-calon pemimpin yang menjalankan pendidikan di sana siap menyambut era selanjutnya di Indonesia.
Gubernur Erzaldi mengatakan, pembukaan program magister leadership ini sangat menarik mengingat pentingnya jiwa leadership ditanamkan dalam setiap calon pemimpin.
“Satu hal, saya menganjurkan akademi harus mengemas kurikulum yang tidak hanya membicarakan leadership secara umum tapi juga, tentang leadership yang peka dan menyatu dengan budaya dan kondisi yang ada di negeri kita,” ungkapnya.
Saat sebelum dilantik sebagai Bupati Bangka Tengah, Gubernur Erzaldi menjelaskan pernah mengikuti program pembelajaran dari Kementerian Dalam Negeri di Lemhanas selama dua minggu.
“Manfaatnya banyak, karena para instruktur di Lemhanas sangat mengerti bahwa tiap pemimpin terpilih dari parpol belum tentu bisa menjamin kesatuan negeri kita. Doktrin partai lebih kuat ketimbang negarawan, termasuk manajemen pemerintahan,” tegasnya.
Menurutnya, seorang pemimpin harus kreatif, inovatif, dan dapat memanfaatkan IT. Seorang pemimpin yang visioner harus memiliki kemampuan penyelenggaraan pemerintahan yang biasanya terhambat oleh peraturan yang ada.
“Jadi, kita dapat mengombinasikan antara multiple intelegensi, transformasi leadership, dan servant leadership,” ungkapnya.
“Ini membutuhkan persiapan ilmu yang matang oleh seorang pemimpin. Dipersiapkan agar hasilnya lebih baik, untuk negeri,” tambahnya.
Guru Besar Universitas Indonesia, Reni Akbar mengungkapkan, masukan yang diterima hari ini akan diterapkan saat pembelajaran magister tahun depan dibuka sehingga, dapat menghasilkan pemimpin-pemimpin luar biasa di masa depan.
Selain Gubernur Erzaldi hadir juga Gubernur Kalimantan Tengah, Guru Besar Universitas Indonesia Reni Akbar, Ketua BPP Hipmi, dan para peserta diskusi.