144 Anak Yatim Ikuti Jambore Anak Yatim
Pangkalpinang - Sebanyak 144 anak yatim dari berbagai pesantren dan panti asuhan di Babel mengikuti Jambore Anak Yatim dan Festival Permainan Tradisional di Masjid Kayu Tuatunu, Komplek Wisata Keleka Community Pangkalpinang, Jumat (23/10/15).
"Jambore ini merupakan contoh konkret dan perlu dikembangkan di lingkungan sosial. Karena jombore ini sebagai wadah untuk meningkatkan prestasi dan kemampuan yang dimiliki oleh anak-anak," kata Sahirman Jumli, Assisten III Bidang Administrasi Umum Setda Provinsi Kep Babel di Masjid Kayu Tuatunu, Jumat (23/10/15).
Pada era modernisasi, akar budaya dan kesempatan anak-anak untuk berinteraksi dengan alam sudah mulai hilang. Untuk itu, menurut Sahirman bahwa alam dan budaya daerah juga perlu diperkenalkan bagi anak-anak sejak dini. Sehingga seni budaya melayu dan alam nantinya tetap dipertahankan dan dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat.
"Kesempatan berinteraksi dengan alam dan budaya perlu menjadi perhatian kita. Dan melalui jambore ini, selain mengenalkan alam dan budaya pada anak-anak, mereka juga dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan bisa saling memupuk rasa persaudaraan karena disitu ada nilai-nilai persatuan," tutur Sahirman.
Lebih lanjut, Sahirman mengharapkan kegiatan ini dapat diselenggarakan rutin tiap tahunnya, kareña anak-anak yatim memang sangat membutuhkan uluran tangan dan perhatian dari kita agar dapat tumbuh dan berkembang layaknya dalam keluarga yang lengkap.
Sementara Heri Hermawan Thalib Ketua Panitia menjelaskan bahwa jambore ini diikuti sebanyak 144 anak yatim dari beberapa pesantren dan panti asuhan di Babel, seperti panti asuhan Muhammadiyah dan Aisyah di Pangkalpinang, Darul Istiqomah dan Darus Syafaah di Air Gegas, Al Kausar di Sungailiat, dan Annajaah di Toboali.
"Selama 3 hari kedepan, anak-anak ini akan mengikuti berbagai kegiatan, antara lain Permainan tradisional, outbound dan materi spritual, menabur benih ikan, berkebun, menanam pohon, pentas seni budaya daerah, mendengarkan dongeng bersama Kak Awam dari Kampung Dongeng Indonesia Jakarta," jelas Heri.
Berbagai permainan tradisional yang langsung bersentuhan dengan alam sudah mulai jarang dimainkan. Oleh karena itu, Heri selaku pemilik areal Masjid Kayu ini menggabungkan konsep permainan modren dengan permainan tradisional seperti permainan enggrang, cak lingking, igik saga, buah kelereng, betet, dan permainan tor-tor.
"Dengan adanya kegiatan ini anak-anak dapat mengenal dan bisa ikut melestarikan budaya tradisional serta tentunya bisa membuat anak-anak yatim ini bahagia," harap Heri.
Sementara itu Mikron Antariksa Kepala Dinas Sosial dan Ketenagakerjaan Kota Pangkalpinang mengatakan bahwa pemerintah mendukung dan berharap kegiatan ini dapat menjadikan anak-anak memiliki karakter dan mental positif melalui kegiatan Outbound yàng didampingi Tim Tagana dari Dinas Sosial dan Ketenagakerjaan Kota Pangkalpinang.
"Selain itu, pihaknya memberikan 10 buah tenda dan menyediakan dapur umum selama kegiatan berlangsung," tambah Mikron.