Gubernur Turun Langsung Benahi Kelangkaan BBM di Pulau Belitung

TANJUNGPANDAN - Tak butuh waktu lama bagi Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Erzaldi Rosman, menjawab aspirasi dari salah satu Fraksi DPRD Babel tentang kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Pulau Belitung dalam Rapat Paripurna yang digelar, Jumat (17/9/2021).

Hari itu juga, ia langsung menuju pulau yang terkenal dengan julukan Negeri Laskar Pelangi tersebut. Kedatangannya untuk mencari tahu secara pasti apa penyebab kelangkaan BBM di Pulau Belitung. 

Pom bensin yang menjadi objek tinjuannya yakni SPBU Air Merbau yang berlokasi di Jalan Air Baik, Paal Satu Kabupaten Belitung. Antrean panjang terlihat di SPBU tersebut. Setelah turun dari mobilnya, gubernur langsung  menanyakan ke sejumlah masyarakat yang sedang mengantre mengisi bensin.

"Sudah sekitar sebulanan lebih Pak terjadi hal ini, bahkan saking langkanya ada warga dari Membalong ke sini hanya untuk mengisi bensin, Pak. Ini gara-gara orang nambang Pak jadi cepat habis," ujar Taswid, pria paruh baya yang sehari-hari beraktivitas sebagai penjual bensin eceran di pedesaan.

Mendengar hal itu, gubernur menjelaskan, kelangkaan BBM yang disinyalir akibat operasional pertambangan memang tak dapat terhindarkan, mengingat harga timah saat ini sedang naik, sehingga banyak masyarakat beralih profesi jadi penambang timah. 

Jika dahulu untuk operasional bahan bakar pertambangan hanya menggunakan jenis solar, namun saat ini sudah ada alternatif menggunakan premium maupun Pertalite untuk bahan bakarnya.

Sehingga, lanjut Gubernur Erzaldi, untuk mengatasi kelangkaan BBM di Pulau Belitung, dirinya juga sudah berkoordinasi dengan pihak Pertamina untuk menambah pasokan bahan bakar, dan responnya positif.

"Alhamdulillah, per hari ini sudah ditambah. Untuk premium ditambah 61 persen, Pertalite ditambah 131 persen, Pertamax ditambah 171 persen, dan Gasoline naik 114 persen," jelasnya.

Gubernur berharap, setelah ditambah pasokannya tidak lagi terjadi antrean masyarakat dalam membeli BBM di Pulau Belitung. Namun, jika masih terjadi ia akan meminta Pertamina untuk memperbanyak Pertashop di pelosok-pelosok.

Ia menilai Pertashop merupakan solusi menyelesaikan masalah ini, oleh karenanya ia mengajak masyarakat untuk berinvestasi di bisnis ini. Berkenaan dengan modal usahanya bisa dibantu melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bekerja sama dengan pihak perbankan.

"Karena siapa yang tahan antre begini demi membeli bensin 2-3 liter, bahkan ada yang dari jauh. Sehingga sudah sewajarnya Pertashop bermunculan di pelosok-pelosok, sehingga persoalan distribusi BBM akan teratasi," ujarnya.

Disamping itu, sesuai program pemerintah melalui Pertamina yang mencanangkan program Langit Biru, maka ke depan pemerintah tidak akan lagi menjual bahan akar minyak (BBM) jenis Premium.

"Sehingga Pertashop atau SPBU mini sebagai lembaga penyalur Pertamina skala kecil menjadi peluang investasi yang menjanjikan dengan target lokasi di pelosok pedesaan," pungkasnya.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Budi
Fotografer: 
Saktio
Editor: 
Rangga

Berita

23/02/2021 | Dinas Kominfo
103,207 kali dilihat
15/08/2019 | DP3ACSKB
46,801 kali dilihat
17/12/2018 | Dinas Kominfo
35,848 kali dilihat
13/07/2017 | Dinas Kominfo
19,038 kali dilihat
06/05/2015 | Dinas Kominfo
11,736 kali dilihat
26/10/2017 | Dinas Kominfo
10,278 kali dilihat
28/01/2020 | Dinas Kesehatan
9,685 kali dilihat