TV Swasta Lokal
Kini, tak kurang dari 30 TV swasta lokal mengudara di Indonesia. Selain mengusung idealisme, mereka menawarkan hiburan dan informasi yang dekat dengan masyarakatnya. Investasi terpenting bukan dana, tetapi content dan format siaran yang berkarakter kedaerahan.
Menurut data resmi yang diterbitkan Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI) per Agustus 2003, ada sekitar 20 stasiun TV swasta lokal yang mengudara mulai dari Sumatra hingga Papua. Daftar itu kini tentunya sudah makin panjang seiring dengan berjalannya waktu. Kini, setidaknya sudah ada sekitar 30 TV lokal yang mengudara. Dan, terbersit kabar bahwa masih ada 20-an lagi stasiun TV swasta lokal yang sedang menunggu izin penyiaran.
Lahirnya UU Penyiaran No. 32/2002 tentang Penyiaran dipercaya menjadi pemicu dari lahirnya TV-TV lokal tadi. Alhasil, penonton di daerah kini tidak lagi dibatasi untuk mendapatkan informasi, yang selama beberapa tahun lalu dipancarkan secara sentral dari Jakarta, atau menonton hiburan yang terkadang terkesan "Jakarta minded". Melihat terus tumbuhnya stasiun-stasiun TV lokal, adakah ini cermin dari cerahnya bisnis tersebut? Sulit untuk dipastikan. Namun yang pasti, agar stasiun-stasiun TV lokal tadi dapat memulai siarannya, dibutuhkan dana yang besar untuk membangun studio dan pemancar, sampai ke biaya operasional siaran tiap harinya. Kalau dihitung kadang mencapai angka miliaran rupiah.
Kekuatan
TV Lokal mempunyai kekuatan tersendiri yaitu pada "kelokalannya" yang tidak mungkin disaingi oleh stasiun jaringan sebagai pesaing terberat stasiun lokal. Persoalannya tinggal lagi bagaimana menciptakan , memproduksi dan mengemas program yang berkonten lokal, seperti: berita lokal, kegiatan (peristiwa) masyarakat lokal, peristiwa hangat lokal, pendidikan dan hiburan lokal. Secara ringkas perlu diterapkan strategi differentiation pada programming. Disamping itu perlu pula diterapkan strategi segmentation pada program dan waktu yang tepat dan stategi overall cost leadership. Sejatinya, kekuatan TV lokal memang berada pada kedekatan mereka dengan masyarakat daerah. Bagaimana mereka bisa mengakomodasi keinginan masyarakat setempat, entah dengan program siaran yang banyak mengandung muatan lokal ataupun menggunakan pengantar bahasa daerah. Semua disesuaikan dengan psikografi target market TV lokal bersangkutan.
Kelemahan
Kelemahan yang di rasakan adalah televisi merupakan bisnis yang tidak hanya memerlukan biaya investasi awal yang besar untuk pengadaan infrastruktur , peralatan produksi studio dan penyiaran (pemancar dan jaringan transmisi), melainkan juga memerlukan biaya operasional yang besar, terutama untuk biaya produksi dan pengadaan (pembelian) program. Dukungan biaya operasional yang cukup dan stabil dari pemilik sangat menentukan kemampuan suatu stasiun TV untuk memproduksi dan menyiarkan program bermutu, menarik, diminati dan dibutuhkam masyarakat. Dukungan dana tersebut terutama pada tahun-tahun awal pengoperasiannya sampai mampu mandiri (setelah menguntungkan).
Ancaman
Ancaman yang muncul yaitu persaingan antara TV Lokal dengan TV Jaringan (TV Swasta Nasional) yang beroperasi dari Jakarta disamping TV Lokal lainnya di daerah yang sama. Menghadapi persaingan dari TV Jaringan ini tidak ringan karena program TV Jaringan telah lebih dahulu digandrungi oleh masyarakat daerah bahkan mungkin digunakan sebagai barometer untuk mengukur dan menilai program TV Lokal. Sehingga masalah yang dihadapi TV Lokal adalah bagaimana merebut minat pemirsa tersebut. Terlepas dari kondisi daerah masing-masing (terutama apabila kondisi ekonomi cukup mendukung), dengan menerapkan secara benar dan konsisten strategi diatas kiranya TV Lokal akan mampu bersaing dan eksis di daerahnya.
Peluang
Peluang yang dimiliki yaitu Popularitas dan image merupakan kunci keberhasilan suatu stasiun televisi dalam merebut kue iklan atau memperoleh pendapatan dan keuntungan dari siaran komersial. Banyak faktor (variabel) yang menentukan image stasiun televisi, namun yang terpenting adalah mutu program siarannya dan kualitas penerimaan signal (reception quality) di masyarakat.
Implikasi Perubahan
- Back up kelompok bisnis yang mapan dan diimbangi dengan persiapan yang matang, membuat stasiun TV lokal itu mampu menggaet iklan dalam rentang waktu yang relatif singkat. Akan tetapi yang harus dilakukan oleh TV-TV lokal yang dibiayai perseorangan, atau perusahaan yang tidak disokong grup besar, untuk mendapatkan iklan yaitu dengan menawarkan tarif iklan yang menarik. Sebagai gambaran, TV-TV lokal mempunyai kisaran harga iklan sekitar Rp4 juta untuk durasi 30 detik. Bandingkan dengan tarif iklan TV swasta nasional dengan durasi yang sama, yang berkisar Rp10-20 juta. Jam tayang yang terbatas, mau tak mau, membuat jumlah iklan yang masuk juga tak sederas TV swasta nasional. Biarpun begitu, TV lokal mempunyai semangat untuk membuat operasional mereka tetap berjalan.
- Program Murah Meriah untuk penghematan biaya operasional, TV lokal banyak mengandalkan program-program siaran yang berbujet rendah. Tentu saja, sinetron buatan dapur sendiri muatannya bisa disesuaikan dengan kondisi daerahnya. Tidak melulu glamor dan berkesan kejakartaan, seperti yang banyak ditawarkan oleh stasiun-stasiun TV swasta nasional. "
- Kental Nuansa Lokal, kekuatan TV lokal memang berada pada kedekatan mereka dengan masyarakat daerah. Bagaimana mereka bisa mengakomodasi keinginan masyarakat setempat, entah dengan program siaran yang banyak mengandung muatan lokal ataupun menggunakan pengantar bahasa daerah. Semua disesuaikan dengan psikografi target market TV lokal bersangkutan.
- TV lokal seharusnya memposisikan diri sebagai komplementer, bukan sekadar substitusi. Pasalnya, penonton di daerah masih bisa memilih tayangan TV lokal dan siaran TV swasta nasional. "Remote masih berkuasa," tegasnya. Jika TV lokal tidak memberikan sesuatu yang berbeda, bukan tak mungkin penonton lebih memilih TV swasta nasional.
- Menurut perhitungan ATVLI, jika suatu daerah bisa hidup dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD), maka daerah tersebut sebenarnya sudah sanggup untuk memiliki TV lokal. Idealnya, TV lokal sanggup menjangkau satu provinsi, tidak antarkota saja, Selain biayanya lebih ringan, juga menghindari persaingan tidak sehat dan ancaman bangkrut.
- TV lokal hendaknya membuat sesuatu yang berbeda dan tidak bisa ditemukan pada siaran TV swasta nasional. Strateginya, bisa dengan cara menemukan karakter lokal yang hendak diangkat hingga format siaran yang pas.
Formulasi Strategi
- Menawarkan tayangan khas yang tidak didapat dalam siaran TV swasta nasional. Misalnya, menyuguhkan program yang kental nuansa kedaerahan.
- Menampilkan sesuatu yang dekat dengan masyarakat daerah. Bisa berbentuk berita atau program unggulan lainnya.
- Mempunyai idealisme dan jaringan kuat. Lebih istimewa jika didukung kelompok usaha yang cukup mapan dan sudah berpengalaman dalam bisnis media.
- Menawarkan tarif iklan yang relatif murah.
- Bekerja sama dengan rumah produksi lokal supaya bisa mendapat program dengan harga miring.



Comments
Untuk Daerahku
Salam... salut buat Bangka Belitung yang sekarang sudah memiliki stasiun TV sendiri...*Thumbs Up*. saya seorang putra daerah yang berasal Bangka Belitung tepatnya Pangkalpinang dan sekarang memiliki Rumah Produksi (PH) di Jakarta Selatan bergerak di bidang pembuatan Film, Iklan (TVC) dan Video Klip..saya senang sekali apabila saya dapat membantu, baik itu untuk Program maupun Pembuatan Iklannya yang seperti dlam uraian Formulasi Strategi. dengan mutu dan kualitas yang tinggi dan tentunya hargapun bisa saya minimalkan namun tidak mengurangi kualitas. Helpy Production Jl. Pejaten Raya No 31 Kompleks The Next Academy, Film dan Broadcast helpy_production@yahoo.com 021 7814239
Menumbuh Kembangkan Kesempatan Kerja di Bidang Seni
Saya pikir, Peluang yang dihubungkan dengan faktor Strength adalah ikut terciptanya kesempatan kerja baru di bidang seni. Kalo dicermati beberapa banyak, sebagai contoh: kelompok-kelompon Band di kalangan remaja yang merupakan potensi di Provinsi Babel telah lahir dan mulai berkembang. Walaupun itu sebatas baru dengan ada beberapa stasiun radio (FM) yang sekarang mendapat izin baru (IPP), dimana radio baru dapat dijadikan media promosi gratis bagi sebagian kelompok Band tersebut.
Semua dimulai dengan upaya membangun citra daerah, yang seharus memang dapat lebih banyak dipelopori/diserap oleh media TV Lokal. Karena TV lebih berbasis video audio, sehingga performa packaging program lebih dapat ditonjolkan.
Namun sekalipun TV Lokal tidak dapat hanya dilihat dari segi kelokalannya saja, lebih jauh TV Lokal harus dapat menjadi TV jaringan untuk "lokal"-nya. Contoh: TV orang Bangka harus bisa ditonton oleh seluruh orang Bangka, atinya realitas memang dapat ditonton oelh orang seluruh Bangka. Artinya harus mampu menghadapi segala Ancaman yang mungkin muncul.
Ancaman dapat muncul dari segi pendanaan, dimana kontinuitas operasional TV Lokal belum dapat hidup dari "Kelokalan"-nya. Saya berharap akan muncul TV lokal yang Professional Minded, yang tidak hanya berharap hidup dari budaya lokal, tapi menghidupi budaya lokal. Terima kasih.
Salam,
Dani
Pemancar TV dot com