Pengrajin Tenun Cual Dapatkan Pembekalan Dari Desainer Tenun

Muntok -  Guna menjaga keberadaan karya budaya yang merupakan warisan budaya tak kebendaan kain Tenun Cual Bangka Belitung dan melihat perkembangan pangsa pasar dunia fashion akan kain tradisional etnik Indonesia seperti halnya kain tenun, semakin diminati baik di tingkat nasional maupun pada pangsa pasar internasional maka  berbagai strategi untuk memperluas pangsa pasar produk budaya yang berbasis dari potensi budaya lokal upaya terus dilakukan oleh pemerintah.

“Saat ini perkembangan dunia fashion yang menggunakan kain tradisional etnik yang menjadi warisan budaya di Indonesia itu sangat luar biasa peminatnya, seperti untuk pangsa pasar busana muslim itu sekarang paling banyak menggunakan kain tradisional etnik seperti kain tenun”, ungkap Wignyo Rahardi selaku desainer tenun dan pengurus Dekranasda untuk bidang daya saing produk saat memberikan pembekalan dan pelatihan bagi penenun tradisional  Kain Cual selama dua minggu di Kantor Kelurahan Tanjung – Muntok hari ini Jum’at (12/10).

Dituturkan Wigno bahwa meningkatnya permintaan akan kain tenun etnik tidak terlepas akan dukungan dari para desainer yang saat ini semakin menonjolkan budaya etnik indonesia dalam setiap hasil karya busananya.

“Seperti beberapa desainer luar negeri kini sudah mulai menggunakan kain-kain tradisional etnik Indonesia untuk hasil karya rancangannya yang mana mereka (red: desainer luar negeri ) melihat dari kiprah hasil karya desainer Indonesia yang menggunakan kain tradisional etnik seperti kain tenun dalam pameran karyanya, jadi  untuk kain tenun cual Bangka Belitung ini juga memiliki potensi nilai jual seperti kain tenun etnik dari daerah lainnya yang kini sudah masuk dalam dunia industri fashion namun juga dengan tetap mempertahankan nilai heritage nya, ” ungkap Wignyo

Wigno menuturkan tingginya permintaan kain tenun tradisional hasil dari para pengrajin tradisional masih  terbatas. “Jadi memang kebutuhan dari dunia fashion bagi para desainer dan industri pakaian itu saat ini sangat tinggi sementara kondisi pasokan kain tenun etnik  di sentra sentra kain tenun yang ada di berbagai daerah di indonesia yang dihasilkan oleh para pengrajin masih terbatas, ” ungkap Wignyo

Terbatasnya pasokan kain tenun tradisional dijelaskan Wigno satukebanyakan para pengrajin dalam proses produksi masih terkendala pada alat produksi tenun yang mereka gunakan, sehingga perlu adanya pengenalan inovasi mengenai alat tenun yang lebih efisien dan mendukung produktifitas para pengrajin .

“Saat ini fokusnya bagaimana memproduksi membuat kain tenun khususnya kain tenun cual yang memiliki nilai kompetitive dengan kain tenun lainnya dan untuk menuju arah itu perlu adanya inovasi dalam proses produktifitas”,

Bentuk inovasi dalam proses produksi kain tenun dijelaskan Wignyo dimana pengrajin dapat menggunakan  alat produksi tenun melalui alat tenun bukan mesin atau dikenal dengan ATBM   “ jadi inovasi yang kami (red: dekransda) berikan pembekalan untuk  para pengrajin tenun kain cual  hari ini, kami hari ini memberikan pelatihan bagaimana menggunakan alat tenun cual ATBM (alat tenun bukan mesin),  dengan alat ATBM ini kelebihannya hasil kain yang dihasilkanoleh pengrajin kualitasnya  juga lebih lebar jadi lebih efektif dan efisien untuk dijadikan busana dan alat ini juga lebih nyaman digunakan oleh pengrajin  dalam melakukan proses menenun”, tutur Wignyo

Melalui alat ATBM ini, dijelaskan Wignyo hasil  kain tenun Cual yang dihasilkan dari sisi kualitas tetap terjaga khususnya dalam menghasilkan motif kain tenun yang lebih variatif tutur Wignyo.  

Selain pembekalan mengenai proses tenun menggunakan alat ATBM dan pembekalan mengenai penentuan motif kain, dijelaskan Wignyo bahwa para pengrajin tradisional kain cual juga diberikan pelatihan dan pembekalan mengenai teknik pewarnaan.

Melalui pembekalan yang berlangsung selama dua minggu kedepan ini, Wignyo berharap dapat meningkatkan kapasitas para penenun tradisional sehingga memberikan dampak ekonomi kepada para pengrajin.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Stevani
Fotografer: 
Stevani
Editor: 
Fitra