Masyarakat Perlu Deteksi Dini IVA Dan Papsmear Untuk Cegah Kanker Serviks

Pangkalpinang – Penderita kanker serviks di Indonesia masih tinggi dengan menduduki peringkat pertama di Asia Tenggara. Hal ini disampaikan oleh Dokter Nazif SpOG dari Rumah Sakit Medika Stannia Sungailiat, saat memberikan sosialisasi  deteksi dini kanker serviks dan payudara, bertempat di Graha Timah pada hari Kamis (12/10/2017).

Dokter Nazif menyampaikan, bahwa kanker serviks ini 99,7% disebabkan oleh Human Papillomavirus (HPV). “Karena tanpa disadari, manusia dapat terinfeksi virus HPV. Dan yang terinfeksi virusHPV tidak mengalami keluhan,” terang Nazif.

Dokter Nazif mengungkapkan kadang-kadang saat pasien yang datang sudah mengalami beberapa keluhan. “Apabila sudah mengalami keluhan-keluhan, biasanya pasien dalam keadaan sudah sampai pada stadium 3B keatas,” ujarnya.

Beberapa gejala kanker serviks adalah :

  • Pendarahan diluar menstruasi
  • Pendarahan setelah berhubungan intim
  • Pendarahan setelah menopause
  • Keputihan yang kronik dan berbau dan atau bercampur darah
  • Nyeri di daerah panggul
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Pendararahan saat pemeriksaan pelviks
  • Periode menstruasi yang lebih berat dan lama
  • Penurunan berat badan drastis tanpa sebab

Pada tipe HPV, Nazif menerangkan ada dua tipe, yaitu tipe low risk (resiko rendah), dan tipe high risk (resiko tinggi). Dimana tipe low risk dari HPV ini dapat menyebabkan kutil kelamin, dan tipe high risk yang dapat menyebabkan kanker serviks.

“Hampir 70 persen yang terinfeksi dari HPV tidak menimbulkan gejala atau bahkan benar-benar sembuh. Kalau kita terinfeksi HPV tidak ada tanda-tanda klinis sama sekali, dimana stadium 1 dan 1A masih belum ada keluhan” jelas Nazif.

Hampir 95% penularan melalui kontak seksual, atau dari genital ke genital, tangan ke genital, atau oral ke genital. Namun dalam beberapa kasus bisa dikarenakan oleh faktor lainnya melalui jalur non sexual seperti; saling bertukar handuk, sarung tangan pemeriksaan di rumah sakit yang tidak higienis atau tidak steril. Bahkan ada juga secara vertikal yaitu dari Ibu ke anak melalui proses melahirkan secara vaginal,

Mengenai ketahanan manusia untuk menghadapi kesembuhan dalam kanker serviks, Nazif mengungkapkan apabila masih berada di stadium 0 hingga 1 masih memiliki 90-100%. Kalau sudah berada di 1B angka survival nya berada disekitar 85%, bila sudah pada stadium 2 survival rate nya berada pada 65% dengan penyebaran sudah ke vagina. Bila sudah menyebar ke ginjal dan kandung kemih angka survival nya menjadi turun 35%, bila sudah pada stadium lanjut angka survival rate nya bisa jatuh hingga 10%.

“Yang patut kita waspada, kadang-kadang pasien datang saat sudah memasuki stadium 3. Saya berharap pasien tidak datang saat sudah mengalami keluhan dimana angka survival rate nya berada di 35%,” harap Nazif.

Mengenai pengobatannya, Nazif menjelaskan saat memasuki pra kanker atau 1A dapat dilakukan terapi atau dibuang area yang terdapat kankernya (histerektomi). Namun kalau sudah melebihi stadium 1A, akan ada berbagai pengobatan yang perlu dijalankan oleh pasien sebelum melakukan pengangkatan rahim, seperti kemoterapi untuk mencegah penyebaran. Untuk stadium 3 selain kemoterapi, pasien akan di radiasi, setelah melakukan serangkaian seri akan dievaluasi kembali apakah layak atau tidak untuk dioperasi.

Beberapa hal yang dapat memperberat keadaan kanker adalah perilaku merokok, dikarenakan dalam rokok terdapat berbagai macam kandungan karsinogen. Kontrasepsi oral juga menjadi riskan menurut Nazif, dengan penggunaan lebih dari 10 tahun dapat memperberat keadaan, kelebihan berat badan, riwayat keluarga, dan juga riwayat persalinan vaginal yang lebih dari tiga kali.

“Riwayat persalinan secara vaginal memiliki faktor resiko, dikarenakan trauma yang terlalu sering pada mulut rahim,” jelas Nazif.

Dalam pencegahannya, dapat dilakukan test Inspeksi Visual Asetat (IVA) dengan pemeriksaan yang singkat. Kemudian ada Papsmear yang agak sedikit lebih lama untuk melihat tanda-tanda sel pra kanker.

Mengenai kapan saatnya menggunakan vaksin untuk pencegahan, Nazif menyarankan disaat sudah menikah (saat sudah melakukan hubungan seksual) perlu untuk mendapatkan vaksin. Namun dari usia dini sekitar 9 tahun pun sudah dapat dilakukan vaksin. Ia pun mengingatkan, walaupun sudah melaksanakan vaksin, tetap harus dilakukan pemeriksaan IVA atau papsmear secara rutin.

Bukan berarti hanya wanita yang harus waspada terhadap HPV, namun Ia mengatakan bahwa pria pun perlu waspada dengan HPV karena dapat menimbulkan kanker penis dan kanker anus. Walaupun orang yang sudah terinfeksi HPV belum tentu secara otomatis menjadi kanker, namun hal tersebut tetap perlu diwaspadai, pesan Nazif.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
khalimo
Fotografer: 
Khalimo