Masih Banyak Jalan Yang Perlu Dilebarkan Untuk Memenuhi Standar Nasional.
Diskominfo (Tue, 24 Aug 2010 at 11:32)
Pangkalpinang - Provinsi Bangka Belitung mempunyai kondisi jalan yang relatif lebih bagus daripada Provinsi-provinsi yang lain, namun masih ada beberapa ruas jalan yang lebarnya masih 4,5 meter, terutama Pangkalpinang dan Namang yang masih tersisa sepanjang 10 kilometer yang lebar ruas jalannya kurang dari 7 meter.
Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum Ir. Ansori, MT. Kepada wartawan di ruang Media Center Gedung Dinas Komunikasi dan Informatika saat menggelar acara jumpa pers pada hari senin 23 Agustus 2010.
”Lalu antara Koba ke Toboali masih tersisa sekitar 5 kilometer yang lebarnya masih 4,5 meter. Berikutnya antara Toboali ke Sadai lebih kurang sekitar 40 kilometer. Pangkalpinang ke Belinyu 30 kilometer. Berdasarkan peraturan kementrian Pekerjaan Umum yang baru, bahwa untuk standar jalan nasional lebar jalan 7 meter, dan bahu jalan 2 meter di sisi kiri dan kanan,” jelas Ansori
Sekarang yang jalannya masih 6 meter secara bertahap nanti akan ditingkatkan menjadi 7 meter. Perkiraan tahun depan baru dimulai untuk melebarkan jalan antara Pangkalpinang dan Sungailiat yang masih 6 meter. Termasuk di Pulau Belitung sekarang sudah dimulai dari bandara Hanajuddin menuju kota Tanjung Pandan.
Hal ini juga dalam rangka menunjang daerah pariwisata yaitu dari Tanjung Pandan menuju Tanjung Selayang dan Tanjung Tinggi, jalan ini akan dilebarkan oleh Dinas Pekerjaan Umum, yang tadinya statusnya dari jalan Provinsi sekarang berubah menjadi jalan nasional, namun lebarnya masih 4,5 meter, ditahun yang akan datang juga akan dilebarkan menjadi 7 meter.
Ada juga kegiatan lain yang akan dilaksanakan di Kepulauan Bangka Belitung ini yang multi years, salah satunya adalah jalan lingkar timur pulau Bangka yang menghubungkan pantai Rebo dengan Pangkalpinang.
Ruas-ruas jalan yang akan digarap oleh PU sebenarnya masih termasuk kawasan hutan produksi namun disana ada kepemilikan masyarakat, maka dari itu akan diselesaikan masalah pembebasan lahan secara bertahap, yang kemungkinan setelah lebaran sudah ada kepastiannya sehingga diharapkan akhir tahun 2010 jalan tersebut sudah terbuka.
Mengenai Jembatan batu rusa yang sudah selesai dan dalam waktu dekat ini sudah bisa dilewati, walaupun disana masih ada kendala pembebasan terutama disektor wilayah kota Pangkalpinang maupun yang berada disektor wilayah Kabupaten Bangka.
”Proses pembebasan terus kita lakukan, proses sosialisasi juga terus kita lakukan, tapi pembebasan lahan ini bukan suatu hal yang gampang, karena perlu melalui negosiasi dan perundingan yang dilakukan tidak hanya satu kali tapi berkali-kali supaya mencapai suatu kata mufakat dan sepakat,” ungkap Ansori.
Dalam kesempatan yang sama, Ansori juga menginformasikan kegiatan Dinas Pekerjaan Umum dibidang Sumber Daya Air, dimana Bangka Belitung mempunyai potensi Sumber Daya Air yang bisa dimanfaatkan terutama dalam peningkatan produksi pangan. Produksi pangan yang dihasilkan oleh pulau Bangka Belitung pada saat ini baru sekitar 12 persen dari kebutuhan masyarakat, sedangkan kalau dilihat dari potensinya, Bangka Belitung mempunyai daerah irigasi seluas kurang lebih 35.000 hektar, yang terdiri dari daerah irigasi 23.000 hektar, daerah rawa sekitar 12.000 hektar, namun potensi yang digarap belum maksimal.
”Kalau kita lihat dari jumlah penduduk Provinsi Bangka Belitung ini sekitar 1,1 – 1,2 juta jiwa, kalau saja kita bisa memanfaatkan potensi daerah irigasi dan daerah rawa ini, suatu saat saya yakin bahwa provinsi Bangka Belitung ini produksi pangannya akan terpenuhi,” ujar Ansori.
Daerah irigasi yang besar terdapat di daerah Bangka Selatan yaitu riak dan Belitung Timur yaitu Serinci yang luasnya di atas 3000 hektar, dan ada daerah rawa yang terdapat di daerah Timur Raya. Diharapkan kedepannya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bisa mandiri dalam hal produksi pangan.
”Seperti yang diketahui, Provinsi ini merupakan daerah kepulauan yang sangat tergantung dengan kondisi cuaca, yang apabila kondisi cuaca tidak bersahabat, maka suplai barang yang didatangkan dari luar Provinsi terutama dari pulau Jawa maupun dari pulau Sumatra dapat terhambat, dan tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat Bangka Belitung akan mengalami krisis pangan karena menunggu datangnya suplai dari luar. Hal ini tidak perlu terjadi bila potensi daerah dimanfaatkan dengan maksimal,” tutur Ansori.(K5)








