Dekranasda Babel Jalin Mou Dengan Bank Indonesia Untuk Tingkatkan Industri Kain Cual di Babel

Muntok - Sejumlah pengrajin dan pelaku usaha yang bergerak dalam tenun cual di Muntok mendapatkan pelatihan guna meningkatkan industri kain cual di Bangka Belitung, jumat (12/10).

Para pengrajin dan pelaku usaha tersebut mendapatkan pelatihan selama 14 hari, sejak tanggal 12-25 Oktober 2018, dimana program Pengembangan industri tenun cual ini merupakan program berkesinambungan dari dekranasda pusat dan provinsi yang bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk mengangkat kain daerah, dengan MoU yang dilakukan selama tiga tahun.

Ada tiga pelatihan yang diberikan, yaitu pewarnaan, penggunaan Alat Tenun Bukan Mesin (ATMB), dan mehani (penggulungan benang/pemintalan benang).

Para pengrajin yang mendapatkan pelatihan ini sebagian banyak sudah memiliki pengetahuan dasar mengenai keterampilan gedokan (tradisional), dan sebagian lagi merupakan para pengrajin baru.

Dengan kemunculan pengrajin baru diharapkan dapat membuat para pengrajin lebih inovatif dalam berkarya.

“Kita juga ingin menumbuhkan pelaku-pelaku usaha lain selain tenun yang telah ada di Pangkalpinang. Dengan munculnya  pengrajin yang baru, maka persaingan harga menjadi ketat dan menciptakan persaingan usaha yang sehat,” ujar Elfiyana selaku Kepala Bidang Manajemen Usaha Dekranasda yang mewakili Ketua Dekranasda Provinsi Melati Erzaldi.

Dengan pemberian pelatihan ATMB ini tidak serta merta menghilangkan para pengrajin tenun gedokan, namun dekranasda provinsi adalah untuk melakukan Pengembangan inovasi penggunaan ATBM, dimana targetnya untuk mengangkat ekonomi masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Wignyo Rahadi selaku Dekranas Bidang Daya Saing Produk mengatakan bahwa Tujuan dari pelatihan ini agar para penenun dapat termotivasi membuat cual bukan hanya sebagai sampingan, namun dapat menjadi keseriusan dan menjadi industri.

Ia pun juga menyampaikan, bahwa dengan ATMB dapat meningkatkan jumlah produksi para pengrajin, dibandingkan dengan tenun gedokan (tenun cara tradisional).

“Menggunakan ATMB ini akan mempermudah pengrajin dalam menghasilkan produksi nya, sehingga lebih efisien dan lebih nyaman digunakan tanpa mengurangi kualitas yang dihasilkan,” tutup Wignyo.

Sumber: 
Dinas Kominfo
Penulis: 
Khalimo
Fotografer: 
Khalimo